KULTUR SEKOLAH (TUGAS 5)


Nama  : Merry Rahmawati
Nim     : 11901206
Kelas   : PAI 4C
Makul : Magang 1

        Menurut Antropologi (Koentjaraningrat, 2003: 72) kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar. 
        Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang didesain untuk memeperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut (Ariefa Efianingrum, 2009: 21). 
        Dapat disimpulkan, kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Suatu kebudayaan juga merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai karya yang dibuat oleh manusia). Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama.
        Jadi dalam hal ini budaya atau kultur sekolah mempengaruhi dalam dinamika kultur sekolah yang tetap menekankan pentingnya kesatuan, stabilitas, dan harmoni sosial pada sekolah, dan realitas sosial. Budaya sekolah juga memperngaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah. 
        Menurut Schein (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003 : 3-4), kultur sekolah adalah suatu pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan atau pengembangan oleh suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang telah berhasil baik serta dianggap valid, dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara yang benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalahmasalah tersebut. Menurut Zamroni (2005: 15), kultur atau budaya dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai tertentu yang dianut sekolah. 
        Jadi kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas internal-latar, lingkungan, suasana, rasa, sifat dan iklim yang dirasakan oleh seluruh orang. Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks persekolahan, sehingga kultur sekolah kurang lebih sama dengan kultur organisasi pendidikan. Kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah. Biasanya kultur sekolah ditampilkan dalam bentuk bagaimana kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, belajar dan berhubungan satu sama lainnya sehingga menjadi tradisi sekolah. 
        Kultur sekolah diharapkan memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional. Sekolah perlu memperkecil ciri tanpa kultur anarkhis, negatif, beracun, bias dan dominatif. Kultur sekolah sehat memberikan peluang sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang.
        Sedangkan menurut Jumadi (2006: 6) Keberhasilan pengembangan kultur sekolah dapat dilihat dari tanda-tanda atau indikator sesuai fokus yang dikembangkan. Beberapa indikator yang dapat dilihat antara lain : adanya rasa kebersamaan dan hubungan yang sinergis diantara warga sekolah, berkurangnya pelanggaran disiplin, adanya motivasi untuk berprestasi, adanya semangat dan kegairahan dalam menjalankan tugas, dan sebagainya.
        Kultur sekolah sangat mempengaruhi perubahan sikap maupun prilaku dari warga sekolah. Kultur sekolah sendiri dibedakan menjadi tiga macam, yaitu kultur sekolah yang positif, kultur sekolah yang negatif dan kultur sekolah yang netral, yaitu: 

1) Kultur sekolah positif meliputi kegiatan-kegiatan yang mendukung (pro) pada peningkatan kualitas pendidikan, terdiri dari:
a) Ada ambisi untuk meraih prestasi, pemberian penghargaan pada yang berprestasi;
b) Hidup semangat menegakan sportivitas, jujur, mengakui keunggulan pihak lain; 
c) Saling menghargai; 
d) Trust (saling menghargai). 

2) Kultur sekolah negatif meliputi kegiatan-kegiatan yang tidak mendukung (kontra) pada peningkatan kualitas pendidikan, terdiri dari:
a) Banyak jam kosong dan absen dari tugas; 
b) Terlalu permisif terhadap pelanggaran nilai-nilai moral; 
c) Adanya friksi yang mengarah pada perpecahan, terbentuknya kelompok yang saling menjatuhkan; 
d) Menekan pada nilai pelajaran bukan pada kemampuan. 

3) Kultur sekolah netral meliputi kegiatan yang kurang berpengaruh positif maupun negatif pada peningkatan kualitas pendidikan, terdiri dari: 
a) Seragam guru; 
b) Kegiatan arisan sekolah, jumlah fasilitas sekolah dan sebagainya. (Farida Hanum, 2013: 206).

        Secara karakteristik kultur sekolah terdiri dari kultur positif dan kultur negatif. Kultur positif adalah budaya yang membantu mutu sekolah dan mutu kehidupan bagi warganya. Mutu kehidupan warga yang diharapkan adalah warga yang sehat, dinamis, aktif, dan profesional. Kultur positif ini akan memberi peluang sekolah beserta warganya berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang. Kultur positif ini harus terus menerus dikembangkan dari kohor siswa ke kohor siswa berikutnya, dan dari kelompok satu ke kelompok lainnya. Kultur positif dan kuat memiliki kekuatan dan menjadi modal dalam melakukan perubahan dan perbaikan. 
        Sedangkan kultur negatif adalah budaya yang organisasi yang bersifat anarkhis, negatif, beracun, bias, dan dominatif. Sekolah yang merasa puas dengan yang apa yang telah dicapai merupakan bagian dari kultur negatif, karena mereka cenderung tidak ingin melakukan perubahan dan takut mengambil risiko terhadap perubahan.Akibatnya kualitas akan menurun. Kultur sekolah bersifat dinamis, sehingga perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sulit. Namun yang jelas dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan positif. Kultur sekolah itu milik kolektif dan merupakan perjalanan sejarah sekolah, produk dari berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah. Sekolah perlu menyadari secara serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah.

Komentar