KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK (TUGAS 6)
Nama : Merry Rahmawati
Nim : 11901206Kelas : PAI 4C
Makul : Magang 1
Karakteristik Peserta Didik
Pengertian Karakteristik Peserta Didik Menurut Atwi Suparman, 2001: 123 menyatakan bahwa Karakteristik peserta didik didefinisikan sebagai karakteristik dari mutu perorangan peserta didik yang terdapat pada umumnya meliputi antara lain keahlian akademik, usia serta tingkatan kedewasaan, motivasi terhadap mata pelajaran, pengalaman, ketrampilan, psikomotorik, keahlian kerjasama, dan keahlian sosial.
Ada dua karakteristik kemampuan awal peserta didik yang
perlu dipahami oleh guru yakni:
1) Latar belakang akademik a. Jumlah peserta didik Guru perlu mengenali beberapa jumlah peserta didik yang hendak diajar untuk mengenali apakah mengajar pada kelas kecil ataupun kelas besar. Pemahaman guru terhadap jumlah peserta didik akan mempengaruhi persiapan guru dalam memastikan materi, metode, media, waktu yang diperlukan, serta penilaian pembelajaran yang dilaksanakan. Untuk mengetahui jumlah peserta didik maka guru bisa berkoordinasi dengan bagian akademik.
b. Latar belakang peserta didik Pemahaman guru terhadap latar belakang peserta didik seperti latar belakang keluarga, ekonomi, tingkatan hobi serta lain sebagainya juga mempengaruhi terhadap proses formulasi perencaan sistem pendidikan. Untuk mendapatkan informasi tentang latar belakang peserta didik bisa diperoleh melalui pengisian biodata oleh peserta didik.
c. Indeks prestasi Indeks prestasi peserta didik juga menjadi penting untuk
diketahui oleh guru, agar materi yang diberikan sesuai
dengan kemampuan: - Dapat disesuaikan dengan tingkat prestasi yang mereka
miliki.
- Bahkan peserta didik yang memiliki tingkat prestasi yang
homogen dapat ditempatkan pada kelas yang sama.
- Guru juga bisa mempertimbangkan tingkat keluasaan dan
kedalaman materi yang disampaikan dengan prestasi yang
dimiliki peserta didik.
Untuk mengetahui indeks prestasi peserta didik dapat
diperoleh melalui nilai raport sebelumnya atau seleksi
kemampuan awal peserta didik yang diselenggarakan oleh
lembaga.
d. Tingkat intelegensi Memahami tingkat intelegensi peserta didik juga dapat
mengukur dan memprediksi :- Tingkat kemampuan mereka dalam menerima materi
pelajaran.
- Mengukur tingkat kedalaman dan keluasan materi.
- Bahkan dengan memahami tingkat intelegensi peserta
didik guru dapat menyusun materi, metode, media, serta
tingkat kesulitan evaluasi terhadap tingkat intelegensi
peserta didik.
Tingkat intelegensi peserta didik dapat diperoleh melalui
tes intelegensi peserta didik atau tes potensi akademik.
e. Keterampilan membaca Salah satu kecakapan yang harus dimiliki oleh peserta
didik dalam belajar adalah keterampilan membaca.
Ketrampilan membaca adalah menyangkut tentang
kemampuan peserta didik dalam menyimpulkan secara tepat
dan akurat tentang bahan bacaan yang mereka baca. Untuk
mengetahui tingkat ketrampilan membaca peserta didik dapat
dilakukan melalui tes membaca dan menyimpulkan bahan
bacaan dalam rentang waktu yang telah ditentukan.
f. Nilai ujian Nilai ujian Juga dapat dijadikan sebagai pedoman untuk
memahami karakteristik awal peserta didik. Untuk
memperoleh nilai ujian peserta didik perlu dilakukan
kemampuan awal peserta didik terhadap mata pelajaran yang
diampu oleh guru yang bersangkutan.
g. Kebiasaan belajar/ gaya belajar Aspek lain yang perlu diperhatikan oleh guru dalam
proses pembelajaran adalah memahami gaya belajar peserta
didik atau disebut juga dengan learning style. Gaya belajar
mengacu pada cara belajar yang lebih disukai oleh peserta
didik. Dalam proses pembelajaran, banyak para peserta didik
yang mengikuti belajar pada mata pelajaran tertentu, diajar
dengan menggunakan strategi yang sama, akantetapi
mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda-beda.
h. Minat belajar Minat belajar juga dapat dijadikan sebagai tolak ukur
dalam memahami karakteristik peserta didik. Hal ini
dilakukan agar guru dapat memprediksi atau melihat tingkat
antusias peserta didik terhadap pembelajaran yang
disampaikan. Oleh sebab itu guru perlu melakukan
wawancara atau pengisian angket, agar dapat merangkum
seluruh penilaian yang mencerminkan tentang minat peserta
didik terhadap mata pelajaran yang akan disampaikan.
i. Harapan atau keinginan peserta didik Harapan atau keinginan peserta didik terhadap mata
pelajaran yang akan diberikan juga bisa dijadikan sebagai
patokan guru dalam memahami karakteristik peserta didik.
Hal ini dapat dilakukan dengan meminta peserta didik untuk
mengemukakan pendapatnya tentang harapan mereka
terhadap mata pelajaran yang akan diberikan, suasana yang
diinginkan, serta tujuan yang ingin diperoleh dari mata
pelajaran yang disajikan.
j. Lapangan kerja yang diinginkan Hal ini yang dapat dilakukan dengan pengisian angket.
Sehingga berdasarkan informasi ini seorang guru dapat
memberikan bimbingan dan motivasi terhadap peserta didik dalam upaya pencapaian cita-cita mereka inginkan (Kemp,
1998: 131).
2) Faktor-faktor sosial
a. Usia Faktor usia dapat dijadikan patokan dalam memahami
karakteristik peserta didik. Memahami usia peserta didik akan
berpengaruh terhadap pemilihan pendekatan pembelajaran
yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan
terhadap usia kanak-kanak tertentu saja berbeda dengan
pendekatan belajar yang digunakan terhadap anak remaja atau
dewasa. Dalam praktik pendidikan dikenal dengan istilah
paedagogi dan andragogi. Pedagogi berasal dari bahasa Yunani "paid" artinya anak dan "agogos" artinya membimbing. Itulah sebabnya istilah pedagogi dapat diartikan
sebagai ilmu dan seni mengajar anak-anak. Sedangkan andragogi berasal dari bahasa yunani yakni "andra" artinya orang dewasa dan "agogos" artinya memimpin. Definisi istilah andragogi kemudian dapat diartikan sebagai suatu seni
dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar.
b. Kematangan (maturity) Kematangan juga dapat diartikan sebagai patokan
dalam memahami karakteristik peserta didik, dimana
kematangan secara psikologis juga menjadi pertimbangan
guru dalam menentukan berbagai macam pendekatan belajar
yang sesuai dengan tingkat usia atau kesiapan peserta didik.
Dalam ilmu psikologi pendidikan kematangan ini disebut juga
dengan perkembangan. Perkembangan merupakan suatu
perubahan yang bersifat kualitatif dari fungsi-fungsi tubuh
manusia baik jasmani maupun rohani (Wasty Soemanto,
1983: 22). Dari perkembangan jasmani dan rohani manusia
yang terjadi pada setiap fase kehidupan manusia, mengarah
kepada terjadinya proses kematangan. Kematangan ini
mencakup : - Kematangan pre natal yakni anak yang berusia 2,5 - 9
tahun akan mengalami kematangan fungsi syaraf serta
refleksi untuk menggerakkan tubuh bayi
- Perkembangan vital yakni lahir, menangis, dan tak
berdaya tetapi setelah mengalami fase tersebut ketiga
aspek diatas dapat berfungsi dan menjadi matang
- Kematangan ingatan yakni 2 - 3 tahun fungsi ingatan
anak mulai berkembang, sehingga telah mampu
menerima kesan dan ingatan serta menuju
kesempurnaannya pada usia berikutnya.
- Kematangan imajinasi yakni pada anak usia 3 - 4 tahun
anak sudah merasa bahwa dirinya merupakan kepentingan
dari orang lain. Bahkan dia telah mulai menyadari bahwa
ia dibatasi oleh orang lain. Pada usia berikutnya imajinasi
tersebut akan berkembang menuju kematangannya.
- Kematangan pengamatan yakni pada usia 4 - 6 tahun
sudah berkembang fungsi pengamatan untuk mengenal
lingkungan sekitar, sehingga pada tahun-tahun berikutnya
fungsi-fungsi kematangan menjadi dominan.
- Kematangan intelektual yakni pada anak usia 6 atau 7
tahun anak sudah mulai berfikir secara logi, baik dan
buruk. Dan pada tahun berikutnya perkembangan dan
fungsi intelektual anak akan menuju kematangannya
sering juga disebut proses pembelajaran yang diperoleh.
Dengan demikian, pemahaman guru terhadap fase-fase
perkembangan atau kematangan psikologis peserta didik dapat
membantu guru dalam menentukan pendekatan pembelajaran
peserta didik yang relevan dengan usia kematangan psikologis
peserta didik (Wasty Soemanto, 1983: 75).
c. Rentangan perhatian (attention span) Rentang perhatian peserta didik adalah jumlah waktu normal
peserta didik dapat berkonsentrasi dalam mendengarkan uraian
pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Polio tahun 1984 terhadap mahasiswa menunjukkan bahwa
mereka dapat berkonsentrasi penuh sekitar 60 % dari jumlah
waktu yang ada (Hisyam Zaini, 2002: 116).
Dengan demikian dapat dipahami bahwa memahami rentang
perhatian peserta didik dalam belajar akan menentukan kualitas
informasi yang diperoleh peserta didik dalam proses belajar.
d. Bakat- bakat istimewa Sebagaimana dipahami bahwa setiap peserta didik memiliki
berbagai macam potensi yang berbeda satu sama lainnya. Untuk itu guru perlu memahami perbedaan bakat tersebut agar dapat
dikembangkan secara optimal.
e. Hubungan dengan sesama peserta didik Berdasarkan penelitian ilmiah yang dilakukan, bahwa interaksi
antara guru dan peserta didik, peserta didik dengan yang
lainnya tidak lagi menjadi hubungan secara sepihak tetapi lebih
jauh merupakan hubungan emosional dan simpatik atau
interaktif lewat proses belajar mengajar. Peserta didik tidak lagi
menjadi objek didik tetapi telah tereduksi dengan polarisasi
pemikiran hari dengan menyatakan bahwa peserta didik sebagai
subjek didik, proses interaksi yang menyenangkan dan
menggairahkan menjadikan belajar yang efektif (Bobbi
Depoter, 2000: 19). Dengan demikian memahami hubungan antar peserta didik bisa
membantu para guru dalam mengembangkan pendekatanpendekatan belajar yang bertumpu kepada kerjasama peserta
didik dalam proses belajar.
f. Keadaan sosial ekonomi Pemahaman guru terhadap keadaan sosial ekonomi para peserta
didik juga dapat membantu guru dalam menentukan pendekatan
dan sumber belajar. Secara kasat mata, dapat diperhatikan
bahwa sebagian besar peserta didik mengalami kendala dalam
memenuhi kebutuhan sumber belajar, sebagai akibat dari
rendahnya ekonomi dalam keluarga. Berkenaan dengan hal itu,
dibutuhkan kreatifitas guru dalam membuat atau menentukan
sumber belajar dan media yang terjangkau dan tersedia di
lingkungan belajar para peserta didik.
Nim : 11901206
Makul : Magang 1
- Dapat disesuaikan dengan tingkat prestasi yang mereka miliki.
- Bahkan peserta didik yang memiliki tingkat prestasi yang homogen dapat ditempatkan pada kelas yang sama.
- Guru juga bisa mempertimbangkan tingkat keluasaan dan kedalaman materi yang disampaikan dengan prestasi yang dimiliki peserta didik. Untuk mengetahui indeks prestasi peserta didik dapat diperoleh melalui nilai raport sebelumnya atau seleksi kemampuan awal peserta didik yang diselenggarakan oleh lembaga.
d. Tingkat intelegensi
Memahami tingkat intelegensi peserta didik juga dapat
mengukur dan memprediksi :
- Tingkat kemampuan mereka dalam menerima materi pelajaran.
- Mengukur tingkat kedalaman dan keluasan materi.
- Bahkan dengan memahami tingkat intelegensi peserta didik guru dapat menyusun materi, metode, media, serta tingkat kesulitan evaluasi terhadap tingkat intelegensi peserta didik. Tingkat intelegensi peserta didik dapat diperoleh melalui tes intelegensi peserta didik atau tes potensi akademik.
e. Keterampilan membaca
Salah satu kecakapan yang harus dimiliki oleh peserta
didik dalam belajar adalah keterampilan membaca.
Ketrampilan membaca adalah menyangkut tentang
kemampuan peserta didik dalam menyimpulkan secara tepat
dan akurat tentang bahan bacaan yang mereka baca. Untuk
mengetahui tingkat ketrampilan membaca peserta didik dapat
dilakukan melalui tes membaca dan menyimpulkan bahan
bacaan dalam rentang waktu yang telah ditentukan.
f. Nilai ujian
Nilai ujian Juga dapat dijadikan sebagai pedoman untuk
memahami karakteristik awal peserta didik. Untuk
memperoleh nilai ujian peserta didik perlu dilakukan
kemampuan awal peserta didik terhadap mata pelajaran yang
diampu oleh guru yang bersangkutan.
g. Kebiasaan belajar/ gaya belajar
Aspek lain yang perlu diperhatikan oleh guru dalam
proses pembelajaran adalah memahami gaya belajar peserta
didik atau disebut juga dengan learning style. Gaya belajar
mengacu pada cara belajar yang lebih disukai oleh peserta
didik. Dalam proses pembelajaran, banyak para peserta didik
yang mengikuti belajar pada mata pelajaran tertentu, diajar
dengan menggunakan strategi yang sama, akantetapi
mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda-beda.
h. Minat belajar
Minat belajar juga dapat dijadikan sebagai tolak ukur
dalam memahami karakteristik peserta didik. Hal ini
dilakukan agar guru dapat memprediksi atau melihat tingkat
antusias peserta didik terhadap pembelajaran yang
disampaikan. Oleh sebab itu guru perlu melakukan
wawancara atau pengisian angket, agar dapat merangkum
seluruh penilaian yang mencerminkan tentang minat peserta
didik terhadap mata pelajaran yang akan disampaikan.
i. Harapan atau keinginan peserta didik
Harapan atau keinginan peserta didik terhadap mata
pelajaran yang akan diberikan juga bisa dijadikan sebagai
patokan guru dalam memahami karakteristik peserta didik.
Hal ini dapat dilakukan dengan meminta peserta didik untuk
mengemukakan pendapatnya tentang harapan mereka
terhadap mata pelajaran yang akan diberikan, suasana yang
diinginkan, serta tujuan yang ingin diperoleh dari mata
pelajaran yang disajikan.
j. Lapangan kerja yang diinginkan
Hal ini yang dapat dilakukan dengan pengisian angket.
Sehingga berdasarkan informasi ini seorang guru dapat
memberikan bimbingan dan motivasi terhadap peserta didik dalam upaya pencapaian cita-cita mereka inginkan (Kemp,
1998: 131).
2) Faktor-faktor sosial
a. Usia
Faktor usia dapat dijadikan patokan dalam memahami
karakteristik peserta didik. Memahami usia peserta didik akan
berpengaruh terhadap pemilihan pendekatan pembelajaran
yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan
terhadap usia kanak-kanak tertentu saja berbeda dengan
pendekatan belajar yang digunakan terhadap anak remaja atau
dewasa. Dalam praktik pendidikan dikenal dengan istilah
paedagogi dan andragogi. Pedagogi berasal dari bahasa Yunani "paid" artinya anak dan "agogos" artinya membimbing. Itulah sebabnya istilah pedagogi dapat diartikan
sebagai ilmu dan seni mengajar anak-anak. Sedangkan andragogi berasal dari bahasa yunani yakni "andra" artinya orang dewasa dan "agogos" artinya memimpin. Definisi istilah andragogi kemudian dapat diartikan sebagai suatu seni
dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar.
b. Kematangan (maturity)
Kematangan juga dapat diartikan sebagai patokan
dalam memahami karakteristik peserta didik, dimana
kematangan secara psikologis juga menjadi pertimbangan
guru dalam menentukan berbagai macam pendekatan belajar
yang sesuai dengan tingkat usia atau kesiapan peserta didik.
Dalam ilmu psikologi pendidikan kematangan ini disebut juga
dengan perkembangan. Perkembangan merupakan suatu
perubahan yang bersifat kualitatif dari fungsi-fungsi tubuh
manusia baik jasmani maupun rohani (Wasty Soemanto,
1983: 22). Dari perkembangan jasmani dan rohani manusia
yang terjadi pada setiap fase kehidupan manusia, mengarah
kepada terjadinya proses kematangan. Kematangan ini
mencakup :
- Kematangan pre natal yakni anak yang berusia 2,5 - 9 tahun akan mengalami kematangan fungsi syaraf serta refleksi untuk menggerakkan tubuh bayi
- Perkembangan vital yakni lahir, menangis, dan tak berdaya tetapi setelah mengalami fase tersebut ketiga aspek diatas dapat berfungsi dan menjadi matang
- Kematangan ingatan yakni 2 - 3 tahun fungsi ingatan anak mulai berkembang, sehingga telah mampu menerima kesan dan ingatan serta menuju kesempurnaannya pada usia berikutnya.
- Kematangan imajinasi yakni pada anak usia 3 - 4 tahun anak sudah merasa bahwa dirinya merupakan kepentingan dari orang lain. Bahkan dia telah mulai menyadari bahwa ia dibatasi oleh orang lain. Pada usia berikutnya imajinasi tersebut akan berkembang menuju kematangannya.
- Kematangan pengamatan yakni pada usia 4 - 6 tahun sudah berkembang fungsi pengamatan untuk mengenal lingkungan sekitar, sehingga pada tahun-tahun berikutnya fungsi-fungsi kematangan menjadi dominan.
- Kematangan intelektual yakni pada anak usia 6 atau 7 tahun anak sudah mulai berfikir secara logi, baik dan buruk. Dan pada tahun berikutnya perkembangan dan fungsi intelektual anak akan menuju kematangannya sering juga disebut proses pembelajaran yang diperoleh.
c. Rentangan perhatian (attention span)
Rentang perhatian peserta didik adalah jumlah waktu normal
peserta didik dapat berkonsentrasi dalam mendengarkan uraian
pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Polio tahun 1984 terhadap mahasiswa menunjukkan bahwa
mereka dapat berkonsentrasi penuh sekitar 60 % dari jumlah
waktu yang ada (Hisyam Zaini, 2002: 116).
Dengan demikian dapat dipahami bahwa memahami rentang
perhatian peserta didik dalam belajar akan menentukan kualitas
informasi yang diperoleh peserta didik dalam proses belajar.
d. Bakat- bakat istimewa
Sebagaimana dipahami bahwa setiap peserta didik memiliki
berbagai macam potensi yang berbeda satu sama lainnya. Untuk itu guru perlu memahami perbedaan bakat tersebut agar dapat
dikembangkan secara optimal.
e. Hubungan dengan sesama peserta didik
Berdasarkan penelitian ilmiah yang dilakukan, bahwa interaksi
antara guru dan peserta didik, peserta didik dengan yang
lainnya tidak lagi menjadi hubungan secara sepihak tetapi lebih
jauh merupakan hubungan emosional dan simpatik atau
interaktif lewat proses belajar mengajar. Peserta didik tidak lagi
menjadi objek didik tetapi telah tereduksi dengan polarisasi
pemikiran hari dengan menyatakan bahwa peserta didik sebagai
subjek didik, proses interaksi yang menyenangkan dan
menggairahkan menjadikan belajar yang efektif (Bobbi
Depoter, 2000: 19). Dengan demikian memahami hubungan antar peserta didik bisa
membantu para guru dalam mengembangkan pendekatanpendekatan belajar yang bertumpu kepada kerjasama peserta
didik dalam proses belajar.
f. Keadaan sosial ekonomi
Pemahaman guru terhadap keadaan sosial ekonomi para peserta
didik juga dapat membantu guru dalam menentukan pendekatan
dan sumber belajar. Secara kasat mata, dapat diperhatikan
bahwa sebagian besar peserta didik mengalami kendala dalam
memenuhi kebutuhan sumber belajar, sebagai akibat dari
rendahnya ekonomi dalam keluarga. Berkenaan dengan hal itu,
dibutuhkan kreatifitas guru dalam membuat atau menentukan
sumber belajar dan media yang terjangkau dan tersedia di
lingkungan belajar para peserta didik.
Komentar
Posting Komentar